
Bulan Maret sudah datang! Apa yang istimewa dari bulan ini?
Mungkin masih banyak yang belum tahu, tapi tanggal 30 Maret adalah hari film Nasional. Ditetapkannya penggunaan tanggal tersebut berasal dari hari pertama syuting film Doa dan Darah, 30 April 1950, yang menurut catatan sejarah dianggap sebagai film Indonesia pertama. Doa dan Darah dibuat oleh perusahaan film Indonesia (PERFINI), disutradarai oleh pelopor perfilman Indonesia, Usmar Ismail, dan dibintangi oleh orang-orang Indonesia.
Untuk menyambut datangnya tanggal 30 Maret ini, Dewan Kesenian Jakarta menggelar Bulan Film Nasional yang rangkaian acaranya berupa pemutaran film, pameran sejarah bioskop, dan penggalangan dana untuk upaya pelestarian arsip film-film Indonesia dari jaman dulu hingga sekarang.
Yang sangat menarik untuk pecinta film tentunya adalah acara screening film-film Indonesia dalam program "Sejarah adalah Sekarang 3" yang digelar DKJ melalui Kineforum, bekerjasama dengan lembaga lainnya. Dipertunjukkan tanggal 1 - 31 Maret di Kineforum dan Komunitas Salihara, screening film tersebut gratis dan bisa dihadiri oleh siapa saja!
Memutar total 17 film panjang dan 12 film pendek, program screening gratis ini terbagi menjadi beberapa tema yang keren:
1. Romansa Enam Dekade-Menampilkan film dengan cerita-cerita cinta sejak tahun 1950-an sampai 2000-an, dimana disetiap masanya cerita-cerita tersebut memiliki latar belakang cerita sesuai dengan permasalahan sosial di setiap masanya. Film yang diputar antara lain Tiga Dara (1956) yang legendaris, Badai Pasti Berlalu versi Teguh Karya (1977) yang fenomenal, Ramadhan dan Ramona (1992) yang romantis abis, hingga yang lebih modern yaitu AADC (2001), dan LOVE (2008)
2. Tema Underworld-Memutar film yang berkisah tentang sisi lain dunia, sisi yang kelam dan keras. Mulai dari Mat Peci Pembunuh Berdarah Dingin ( 1978 ) karya Willy Wilianto sampai film modern , Jakarta Undercover ( 2007 ) karya Lance.
3. Body Of Works-Memutar film-film karya pekerja film tertentu sebagai bentuk penghargaan terhadap dedikasi mereka. Tahun ini yang diputar adalah film-film Bing Slamet, dan film-film karya Sutradara Djadug Djajakusuma. Event ini menarik karena Bing Slamet dapat dianggap sebagai salah satu pelopor genre film komedi Indonesia, sementara Djadug Djajakusuma adalah salah satu pendiri PERFINI dan filmnya yang berjudul Harimau Tjampa (1953) terhitung sangat istimewa karena tercatat sebagai salah satu film Indonesia pertama yang berani menampilkan pose dan adegan berani dari bintang film Nurnaningsih.
4. Kali Pertama-Memutar film-film pendek debut 12 sutradara film Indonesia masa kini mulai dari karya pertama Garin Nugroho, Nan T. Achnas, Riri Riza, Hanung Bramantyo, hingga Aria Kusumadewa.
5. Dunia Perempuan Nia Dinata-Mempertunjukkan empat film karya sutradara Nia Dinata yang kental dengan isyu-isyu perempuan dan dunia perempuan.
www.dkj.or.id
http://kineforum.wordpress.com/2009/02/20/sejarah_adalah_sekarang_3
